Mamanya Dandy & Denissa

Sunday, June 17, 2007

It's about my little princess "Denissa"

Baru kali ini saya kelewatan acara yang akan diadakan di sekolah anak-anak saya, khususnya Denissa. Yah kemarin ini hari Sabtu, 15 Juni 2007 ternyata ada perpisahan sekolah dia khususnya untuk anak TK B. Benar - benar gak tahu dan ternyata yang gak tahu bukan saya aja tapi semua temannya Nenis di Play Group gak ada yang tahu kalau hari itu akan ada perpisahan. Jadi yang salah siapa yach? Malah saya mengira kalau hari Sabtu kemarin itu Nenis libur sekolahnya.
Karena belum yakin, akhirnya Sabtu pagi itu saya telpon bu gurunya untuk memastikan bahwa Nenis hari itu masuk apa libur eh ternyata malah dibilang ada perpisahan dan harus masuk dan pakai baju muslim. Dan bu gurunya sempat bilang sih di telpon "Nenis datang yach ada surprise". Surprise apa yach...ya udah akhirnya Nenis masuk sekolah.
Di sekolah ternyata teman2 nya Nenis juga banyak yang gak masuk, tapi saya dan papanya dengan setia menunggu acara secara si Ade juga gak mau pulang karena akan ada "Si Ronald" ituloh badutnya Mc. Donald. Memang pada hari itu sekolah Nenis mengundang Mc. D juga untuk mengisi acara. Ya udah akhirnya kita menunggu acara tsb.
Waktu itu gurunya Nenis sempat ngomong "Nenis jangan pulang yach tuh foto Nenis ada di situ". Saya gak mudeng, foto apa yach dan saya cari2 foto itu diantara panggung perpisahan itu. Karena saya pikir foto anak-anak dari TK. An Nur itu dipajang disitu. Dan ternyata.....Oh My God....ternyata foto anakku ada di "Poster Besar" yang ada di belakang panggung perpisahan. Disitu tidak hanya foto Nenis tapi juga foto-foto anak-anak yang mendapat prestasi. Yah, ternyata Denissa anakku adalah siswi berprestasi di kelasnya di Play Group.
Bangga....itu pasti. Apalagi waktu namanya dipanggil oleh badut "Ronald" untuk ke atas panggung untuk dikasih piala dan hadiah dari Mc. D. Senang banget. Kalau Nenis sih waktu naik panggung gak ada ekspresi, yah secara tuh anak memang masih kecil. Yang heboh justru mamanya. Di piala tersebut tertulis "Siswi terbaik Play Group".
Bukan bermaksud menyombongkan anak saya Denissa, tapi memang anak ini beda sekali. Dari segi mental, dia lebih siap sekolah dibanding kakaknya dulu. Mungkin memang umur yang mempengaruhi. Memang sih waktu semester awal dia manja dan gak mau ditinggal sendiri di kelas. Tapi seiring berjalannya waktu dia sekarang mandiri. Dan dari segi penerimaan pelajaran yang diberikan gurunya, Denisa juga lebih siap dibanding teman-temannya. Di saat teman-temannya kalau diberi buku untuk mewarnai trus mewarnainya berantakan, kalau Denissa sudah bisa lebih rapi dibanding yang lain. Maklum lah namanya juga anak Play Group. Setiap kali ada lomba disekolahnya, pasti Nenis yang disuruh ikut. Makanya saya senang sekali waktu dia dapat piala itu.
Yah mudah-mudahan aja anakku Denissa gak cuma rangking di Play Group aja. Tapi untuk pendidikan selanjutnya dia bisa membuat kami orang tuanya bangga. Dan kami juga berharap anak - anak kami tidak hanya berprestasi di sekolah tapi mereka juga mempunyai akhlak yang baik. Amin.

Wednesday, June 13, 2007

Tentang Doa Kita Selama Ini

Sebenarnya puisi mbak Ratih Sanggarwati ini sudah lama saya baca, entah kenapa saya tersentuh sekali waktu pertama kali membacanya sekaligus malu hati.

Sekedar berbagi aja, mungkin diantara puisi mbak Ratih ini tercantum juga doa - doa kita selama ini....

IMAJINER DOA
oleh: Ratih Sanggarwati
Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis
"Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.
"Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah
"Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah,
agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati
dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.
"Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir
"Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka
di sekolah Islami yang baik meskipun mahal,
beri aku rizki untuk itu ya Allah....
"Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah
"Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami,
agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.
"Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja
"Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yangmengkhawatirkanku.
Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya,
karena dia ibarat buah yangsedang ranum.
"Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa
"Ya Allah entengkan jodohnya,berilah jodoh yang sholeh pada mereka,
yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.
"Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah
"Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini,
aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia
karena dia akan ikut suaminya.
"Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan
"Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat
.Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku,
karya wuk
ena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunyacucuku.
"Ketika kupanjatkan doa-doa itu,
aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata......
"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?"
"Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu......
masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu....
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."
"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,karena apa?
...... prestige? ...... atau....engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar,
Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya."
"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanyadengan mengumbar aurat,
kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku."
"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik
maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."
"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja,
Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,
bahkan ketika dia melupakan-Ku.
Aku tetap mencintainya."
"Anakmu adalah amanahmu,
cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan
untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri
yang menjadi amanahnya.
"Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....
aku malu......aku malu akan tuntutanku......
Maafkan aku ya Allah......lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.
(Ratih Sanggarwati, Gunung Geulis, 25 Desember 2002)

Monday, June 11, 2007

It's about my dream

Tadi malam menjelang pagi saya mimpi kedatangan teman saya yang sudah wafat Alm. Vera Agusta. Ini adalah kedua kalinya saya mimpi tentang dia setelah dia wafat kira - kira 1 tahun yang lalu. Pertama kali mimpi tentang dia adalah waktu itu dia datang ke kantor ini, seperti biasa dia bercanda dengan teman-teman sini khususnya saya. Dengan tawanya dia yang khas, membuat suasana kantor jadi ramai. Yah memang almarhumah walaupun sudah ibu - ibu dengan 3 anaknya yang sudah ada yang kuliah tapi dia tetap saja funky. Main sama dia tuh saya merasa cocok. Makanya gak heran kalau saya merasa sangat kehilangan dengan kepergiannya.
Terakhir saya bertemu dengan dia adalah sewaktu kantor kami sedang mengadakan lay - off besar - besaran, dimana dia adalah salah satu karyawan yang waktu itu kena lay off. Berasa banget kehilangan dia secara dia adalah teman saya jalan. Pokoknya jalan sama dia gak ada istilah tanggung bulan. Jalan terus ke mall. Kalau gak ada uang ya udah paling lihat-lihat aja, pokoknya ngilangin penat di kantor. Apalagi kalau boss lagi gak ada langsung deh cabut!!!Makanya waktu dia kena lay off ya kehilangan banget. Paling2 kalau lagi BT di kantor saya telpon dia di rumah.
Saya ingat betul waktu itu kira2 setelah hampir sebulan saya gak telpon dia, tiba - tiba HP saya bunyi dan saya lihat telp. dari dia. Seperti biasa saya terima telpon dari dia makanya saya langsung jawab "Ya Tante Ve", tapi ternyata suara disana bukan suara dia tapi suara anaknya yang mengabarkan kalau beliau udah gak ada. Lemas sekali saya mendengarnya, seperti mimpi. Rasanya baru kemarin saya masih jalan sama dia. Tapi itulah takdir.
Dan tadi malam untuk kedua kalinya sahabat saya itu datang lagi dalam mimpi saya. Dia datang memakai pakaian putih dan tersenyum sama saya. Cukup lama dan dia tidak mengucap sepatah katapun. Sampai akhirnya saya terbangun. Dan sempat ngelamun juga pas bangun tidur mikirin apa ya artinya.
Sampai di kantor cerita ke anak2 media kalau tadi malam saya mimpi tentang almarhum, kata kawan - kawan saya mungkin dia kangen mbak atau sebaliknya. Dan kata kawan - kawan saya kalau kedatangan orang yang sudah meninggal dan dia tidak bicara apa- apa berarti memang dia datang. Yah memang saya kangen sekali sama si ibu satu itu. I miss U mbak, semoga mbak selalu tenang disisi-Nya. Senyum mbak cukup membuat kangen saya terobati. I miss U friend. Doa saya selalu menyertai mbak.

Thursday, June 07, 2007

Putus Asa

Putus Asa Oleh : Hidayatul Karomah

Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim.

Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat apabila memvonis usaha kita sia-sia.
''Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS Az-Zumar [39]: 53).

Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak berhasil. Ingatlah, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.'' (QS Al Baqarah [2]: 216).

Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.

Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. Na'udzubillahi min dzalik.

Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan kerugian demi kerugian.

Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Apa yang kita terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi 'penyelamat' kita di kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita.